Sex Masih Dianggap Tabu

sex education
sex education
BENGKEL CORETAN – Siapa bilang berbicara masalah seks tidak penting? Namun kenyataannya, berbicara mengenai seks masih dianggap tabu dan jorok. Akhirnya, pengetahuan tentangnya pun masih cenderung tertutup. Ketertutupan ini mengakibatkan ketidaktahuan oleh kebanyakan remaja, dan juga mahasiswa. Jika berbicara tentang seks, sering dianggap akan membuka peluang perilaku bebas. Kekhawatiran yang tak semestinya terjadi dalam wacana keilmuan.
Ketertutupan pembelajaran mengenai seks bukan tanpa alasan. Sebab selama ini perilaku seks bebas acap kali menyertai kaum muda. Hal ini terbukti dari beberapa kasus yang menimpa mereka selama ini. Meskipun tak seluruhnya, kasus yang hanya menimpa sebagian orang itu seakan mewakili keseluruhan anak muda dalam pergaulan. Kesimpulan yang diambil adalah beberapa kasus yang pernah terjadi tersebut. Antitesis yang tidak obyektif dalam meneliti suatu permasalahan.
Akhirnya, ketabuan untuk memberikan pengetahuan tentang seksualitas terjadi terutama di kalangan remaja. Ketidaktahuan ini justru akan berimplikasi negatif. Hasrat ingin mencoba-coba pun muncul. Maklum kondisi psikologis remaja yang masih labil akan menimbulkan perilaku seks menyimpang. Penempatan yang tak sesuai dengan tempat yang semestinya. Sigmund Freud menyimpulkan, terjadinya penyimpangan seksual disebabkan ketidaktahuan obyek dan tujuan seksual. Padahal, jika pengetahuan seksualitas berjalan normal, gangguan neurosis dapat dihindari.
Dengan demikian, setelah pengetahuan tentang seks sampai kepada para remaja, mereka akan sadar arahnya. Dalam hal ini, pengarahan menjadi hal yang sangat penting tentunya. Sebab, kebutuhan seksual merupakan insting. Sama halnya ketika perut terasa lapar, kemudian insting memerintahkan agar mencarikan makanan. Insting manusia tentu berbeda dengan binatang. Manusia mempunyai akal pikiran, binatang tidak. Akal pikiran itulah yang kemudian berfungsi mengontrol insting manusia tersebut. Insting itu berada dalam alam ketidaksadaran. Setidaknya begitulah teori Sigmund Freud mengenai seks.
Pengetahuan tentang seks terhadap remaja baiknya diberikan sedini mungkin. Agar kesadaran tentangnya mampu mengontrol kondisi psikologis remaja yang notabene masih labil. Pengetahuan ini belum tentu berimbas pada perilaku bebas. Kekhawatiran yang berlebihan hanya akan membuahkan sempitnya pikiran mereka.
Dalam hal ini, peran serta fungsi orangtua sangat menentukan. Mereka yang memiliki hak penuh untuk mengadakan kontrol perkembangan seksualitas anaknya. Selain itu, pengetahuan tentang seks secara menyeluruh diharapakan bisa menjadi self control bagi remaja. Selama ini, pengetahuan tentang seksualitas cenderung diberikan kepada fakultas-fakultas kedokteran. Sementara kebutuhan seksualitas ada dalam setiap individu. Tentu keterbukaan dalam memberikan pengetahuan tentang seks harus disesuaikan dengan kondisi perkambangan usia manusia. Diutamakan bagi kalangan mahasiswa yang sudah bisa dibilang menapak usia dewasa. Hal lebih pada usia dewasa adalah kematangannya dalam segalanya, baik berpikir, berperilaku, maupun berbicara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *