Spiderman Kecil

Spiderman Kecil

(Wildan Sahidillah)

Dia mengambil kostumnya dan menyerahkannya kepadaku. Dia lari membawa topeng dari kostum itu dengan berteriak, “Spiderman! Aku Spiderman!”. “Ayah, aku mau jadi spiderman hari ini. Boleh kan?” katanya sambil duduk bersila di depanku. “Hari ini aku mau jadi Spiderman, Yahhhh”. Sembari dia merengek, aku masih menyiapkan peralatan untuk dia berangkat sekolah.

“Hari ini kan masuk sekolah, kok mau pakai kostum itu? Adik, pakai seragam ya.” Kataku sambil berjalan ke lemari mengambil seragam adik. “Ga papa, Yah. Aku mau jadi Spiderman hari ini.” Karena aku tidak bisa menahan erangan anakku itu, akhirnya aku memperbolehkan sekolah memakai kostum spiderman kesayangannya itu.

“Ayo, adik habiskan sarapannya.”

“Baik, Ayah.”

Setelah semua perlengkapan dan sarapan selesai, aku mengantar anakku ke sekolahannya.

“Kalau selesai makan dan minum bilang apa, dik?”

“Alhamdulillah..”

Kebetulan sekolahannya tidak jauh dari rumah, jadi nanti kalau pulang bisa bersama dengan teman-temannya. Dia selesai sekolah pukul satu, dan aku selesai kerja pukul empat. Aku kadang izin kepada atasanku untuk menjemputnya pulang, tapi tidak sering, karena di kantor memang ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kadang juga kalau ia tidak mau pulang dengan teman-temannya, ia minta bu guru untuk mengantarkannya pulang.

Ia manis sekali. Putih, agak gendut, rambutnya agak keriting tapi berwarna hitam, dan memiliki pipi yang tembam. Kadang sangat nakal dan sangat pendiam. Suka sekali makan beefburger, makanya ia agak gendut seperti sekarang ini. Danny namanya.

Kalau main suka lupa waktu. Pernah sekali, ia main di rumah tetangga sampai maghrib, karena aku lupa menjemputnya pulang. Semua temannya suka dengannya, begitu pula dengan dia. Anak-anak sering memanggilnya “inad”, kebalikan dari nama Danny, tapi menggunakan huruf “i”.

Kostum Spiderman itu diberikan oleh bundannya sebelum bundanya pergi. Waktu itu, aku dan istriku sedang memilih kado untuk ulang tahunnya di internet, ketika ia sedang tidur pulas. Aku memilihkan kostum Ironman, tetapi kata istriku ia tidak begitu suka, karena warnanya terlalu dewasa, tidak cocok dengan anak-anak. Kupikir itu bukanlah alasannya, aku tahu kalau istriku suka menonton film Marvel, dan hero favoritnya adalah Spiderman. Aku sebenarnya juga suka dengan Spiderman, tapi aku lebih suka Star-Lord (Guardian of The Galaxy). Setelah ada perdebatan cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk membelikannya kostum Spiderman.

Satu hari sebelum hari ulang tahunnya, kostum tersebut sudah sampai di rumah. Waktu itu juga, istriku sedang sakit, sepertinya demam. Lama-kelamaan tubunya makin lemas. “Bunda, ayo ke rumah sakit aja ya,” kataku sambil membawakan susu putih hangat untuknya. Aku duduk di sebelahnya, dia bilang tidak apa-apa. Kupikir tidak apa-apa kalau tidak ke rumah sakit, lalu kutinggal sebentar ke dalam menengok adik yang sedang tidur.

Beberapa saat aku kembali ke ruang tengah, tiba-tiba istriku pingsan, dan gelas yang berisi susu hangat tadi jatuh dan pecah di lantai. Aku panik. Aku berusaha membangunkan istriku dengan berbagai cara. Semua cara yang kulakukan tidak berhasil, aku memanggil tetangga sebelahku untuk menolong istriku sembari aku menelpon ambulans.

Ambulans datang, tapi istriku juga belum siuman. Aku pun mengemasi barang-barang yang bisa kubawa ke rumah sakit. Aku ke kamar mengambil beberapa baju untuk istriku. Ketika aku melihat ke kaca, ada sebuah tulisan di sana, pada potongan kertas HVS di tempel dengan selotip. Di kertas itu bertuliskan sesuatu.

Maaf ya, Yah. Bunda harus pergi. Kado buat adik tolong berikan secepatnya ya, Yah. Maafkan Bunda, ya. Jangan bilang ke adik kalo Bunda pergi. Bunda sayang semuanya 🙂.

Aku agak bingung dengan tulisan tersebut. Apa maksudnya pergi? Kenapa harus diberikan sekarang, padahal ulang tahun adik masih besok. Aku tambah panik. Ketika mau berangkat ke rumah sakit, adik tiba-tiba bangun dari kamarnya. “Ada apa, Yah? Bunda di mana? Kok ada ambulans, Yah?”, sambil mengucek-ucek matanya karena baru bangun tidur.

Aku makin bingung. Haruskah aku memberi tahu adik kalo bunda mau di bawa ke rumah sakit atau aku menemani adik di rumah. Aku panik sekali.

Setelah berpikir agak lama, kupikir lebih baik aku menemani adik di rumah, sementara biar istriku diantar ke rumah sakit oleh tetanggaku.

“Tidak ada apa-apa, dik. Bunda mau ke luar sebentar,” kataku sambil menggandeng adik ke dapur untuk membuat susu kesukaan adik. “Kok ada ambulans yah? Bunda dibawa ambulans?!”, ia juga panik karena suara ambulans yang terdengar keras dan bunda tidak ada di rumah. “Enggak, Dik. Itu ambulans ada di rumah sebelah. Bunda ga papa kok,” kataku sambil mengangkatnya untuk duduk di kursi.

Susu coklat sudah jadi. Lalu kuberikan ke adik, supaya di minum.

Ketika adik sedang minum, gawai di sakuku berbunyi. Ketika kulihat, ternyata ada telepon dari tetanggaku yang sedang menemani istriku ke rumah sakit. Katanya ia harus memberikan kado tersebut pada Danny. Lalu kuambil kado tersebut di kamar, dan bertanya bagaimana keadaan istriku. Ia bilang harus kuberikan pada adik.

Setelah aku mengambil kado dan memberikannya kepada adik, istriku berkata di telepon kepada adik, “Selamat ulang tahun adik,” dengan nada yang lemas, ia melanjutkan kalimatnya, “… maaf bunda nggak bisa nemenin saat ulang tahun adik. Bunda harus pergi. Assalamualaikum..”, tiba-tiba telepon terputus. Dan kulihat adik tidak berkata apa-apa selain, “Waalaikumussalam, Bunda”.

Setelah telepon terputus, kucoba menelepon lagi ke nomor tetanggaku tadi. Kucoba berkali-kali namun tidak bisa. Aku menjadi makin panik. Aku bingung harus melakukan apa.

Kulihat ke arah adik, ia masih membuka dan mencoba hadiah yang diberikan bunda kepadanya. Kudengar dari kejauhan ia bilang, “Adik sayang Bunda.”

(Gemolong, 30 Juni 2018)

2 tanggapan untuk “Spiderman Kecil

  • 9 Desember 2018 pada 10:12
    Permalink

    Siap kak 🙂

    Balas
  • 8 Desember 2018 pada 20:28
    Permalink

    Terimakasih untuk partisipasinya di Bengkel Coretan Wildan, terus berkarya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *