Jujurlah, Tolong Jangan Berdusta

Bicara dan bersikap jujur bukan hanya soal moralitas
Bicara dan bersikap jujur bukan hanya soal moralitas.

BENGKEL CORETAN– Bicara dan bersikap jujur bukan hanya soal moralitas. Jujur melampaui segalanya, materi maupun immateri. Kata orang-orang suci, jujur bakal menyelamatkan seseorang. Tak hanya batin, tetapi juga keselamatan fisik.

Celakanya, orang kerap menganggap ketidakjujuran sebagai salah satu strategi bertahan hidup. Ingat, perang itu hanyalah tipu daya dan muslihat. Karenanya, tidak jujur kadang diperlukan dalam kondisi tertentu. Dan itu hanya sebatas strategi belaka, bukan pedoman paten. Hanya sementara, secukupnya. Jangan menganggap hidup adalah medan peperangan. Tidak sama. Beda. Bahkan tidak relevan.

Orang yang tidak jujur pasti akan menyakiti dirinya sendiri. Apalagi orang lain, alias korban ketidakjujuran. Namun, korban akan mampu mengikisnya seiring waktu. Karena dia hanya korban belaka. Sementara pelaku, ketidakjujurannya bakal dibawa sampai akhir hayat. Menghambat jalannya hidup dan mencabik-cabik perasaan dan jiwa. Apa kamu mau jiwamu tercabik-cabik sepanjang hayat? Tentu tidak!

Seseorang kepadaku sesumbar mengatakan dirinya baik-baik saja usai berbohong. Itu pilihan, kata dia. Lagi pula, lanjutnya, andai harus berkata jujur, nanti malah justru akan terasa semakin menyakitkan. Sebab, fakta di balik kejujuran itu ada sesuatu yang tak sesuai herapannya, dia berseloroh.

Dalam hati aku menimpali, bukankah adagium ‘jujurlah meski terasa pahit, itu lebih baik daripada tidak jujur?’ Sayang sekali, kalimat itu tak sempat aku sampaikan kepadanya secara verbal karena dia terburu-buru membuat bualan-bualan baru untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Hatiku kembali berceletuk, sudah semakin menumpuk bebohongan dalam diri orang ini. Entah bagaimana kelak ia akan menjalani hidupnya, biar dia sendiri yang menerima akibatnya.

Orang-orang suci kembali berucap, manusia memang gemar menyiksa dan merugikan dirinya sendiri. Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin kita bisa percaya bahwa dia akan mampu membuat orang lain merasa beruntung dengan ucap, sikap dan tindak tanduknya?!
Orang-orang suci kembali menasihati, sebaik-baiknya manusia ialah dia yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Maha Benar Allah dengan segala, firmanNya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *