Kesempatan


Kesempatan?

(Wildan Sahidillah)

Ada yang berteriak, “Hei, kamu gendut!”.

Aku tidak terbiasa dengan panggilan itu, tetapi aku tetap saja menoleh ke arah suara itu. Aku tidak melihat ada seseorang yang memanggilku. Memang waktu itu jalananan sedang ramai sekali, ketika aku melihat sekeliling, aku hanya melihat lalu lintas kota yang macet. Aku masih menunggu di seberang jalan, untuk menyeberang, menunggu lampu menjadi hijau untuk pejalan kaki sepertiku.

“Hei, gendut! Ke sini!”, aku mendengar suara itu lagi sebelum aku berjalan untuk menyeberang jalan, karena lampu sudah hijau. Setelah tiba di seberang, ternyata di balik semak-semak ada dua orang yang tidak aku kenal yang dari tadi memanggil-manggil aku. Aku tidak kenal dengan mereka berdua. Tapi, sepertinya telah terjadi sesuatu.

Dua orang itu sepertinya memperhatikanku dari tadi mengawasiku sejak aku keluar dari rumah. Aku takut terjadi sesuatu kepadaku, lalu aku lari sekencang-kencangnya menuju kantorku yang masih 300 meter di depan.

Aku berlari melewati kerumunan orang yang sedang bercengkerama di pinggir jalan, tapi aku tidak peduli, karena demi keselamatanku. Aku melihat ke belakang, tidak ada apa-apa.

Aku masih berlari, kali ini aku melewati jalan alternatif, tidak seperti jalan biasanya. Ketika aku melihat ke belakang, aku melihat dua orang yang tadi memanggil-manggilku. Kulihat satu orang, berambut agak keriting dan tubuhnya kurus, sedangkan yang di sampingnya agak tinggi dan memakai jaket warna hitam. Aku semakin ketakutan, karena dua orang tersebut berada di belakangku.

Tiba-tiba, orang itu berhenti sejenak dan memanggil namaku, “Hei! Faizal! Berhenti”. Aku berpikir, kenapa dia bisa tau namaku, padahal aku tidak kenal mereka. Teman sekolah pun tidak. Walaupun aku masih curiga dengan mereka, aku melangkah lebih dekat pada mereka. Kuamati wajah dan pakaian kedua orang tersebut, aku pikir normal-normal saja, tidak ada yang salah. Dari arah belakang, ada seseorang datang mendekatiku, karena aku sangat penasaran lalu aku menoleh ke belakang, dan.. Kemudian terdengar suara, “Dor.. dor.. dorr”. Pistol dari dua orang tersebut melintasi di atas kepalaku, dan aku sangat terkejut hingga aku terjatuh di hadapan dua orang yang datang dari arah belakangku tadi. Ada pisau yang jatuh di hadapanku. Aku merasa sangat panik, aku takut dengan pistol, aku takut dengan pisau, rasanya aku ingin teriak, ‘Ya Tuhan, apa ini? Semoga semua ini mimpi!’.

“Faizal, kami tidak berniat mengejarmu, tapi kami berniat untuk mengawasi dan menjagamu.” kata salah seorang tersebut. Lalu, orang yang berambut keriting menimpali, “Dari orang ini.”

“Memangnya ada apa? Apa salahku? Kupikir aku tidak pernah melakukan kesalahan yang fatal”. Aku berpikir bahwa memang aku tidak pernah melakukan kesalahan yang sangat berbahaya, hingga seseorang mengawasiku dan mungkin akan membunuhku. Aku semakin takut. Kenapa sampai-sampai kedua orang ini menembakkan pistolnya ke arah orang yang ingin membunuhku. ‘Sebenarnya ada apa?’ Aku bertanya dalam diriku sendiri.

Dua orang tersebut lalu mengajakku lari. Lari dari orang yang telah ditembak dengan pistol tadi. Aku semakin ketakutan.

Aku lari sekencang-kencangnya, hingga kami bertiga berhenti pada suatu tempat. Aku lihat dari luar, ini adalah tempat yang kukenal dulu, tapi tidak sebagus ini. Aku lupa dengan tempat ini. Ketika aku masuk, dua orang tersebut berlagak seperti biasa, tidak seperti layaknya pembunuh atau yang lainnya. Orang yang berambut keriting berbicara padaku, “Kau lapar?”, “Ya, sebenarnya aku harus ke kantor. Dan aku akan sarapan di sana,” sejak tadi aku berangkat memang aku belum sarapan dan sangat lapar. “Tidak masalah, hari ini kau bolos kerja. Ada hal penting yang harus kukatakan padamu,” kata orang berambut keriting tersebut. Aku tidak begitu banyak berbicara dengan kedua orang tersebut. Tapi, tidak lama aku berjalan, aku sudah sampai di suatu ruangan. Mereka menyuruhku duduk di salah satu kursi. Kursi berwarna biru, seperti kursi yang ada di kantor, tetapi lebih nyaman. Kupikir memang ini kursi yang mahal. Dua orang tersebut meninggalkanku. Sebelum meninggalkanku, mereka berpesan, “Jangan sentuh lukisan itu, jangan pergi dulu, dan jangan macam-macam dengan pintu yang di kirimu.”

Aku berjalan melihat sekeliling ruangan ini, banyak hal yang ingin kutanyakan. Tentang benda-benda yang ada di ruangan ini. Aku merasa tidak sepanik ketika aku hampir dibunuh oleh orang tadi, sekarang aku merasa lebih tenang.

Seorang yang berjaket biru datang ke arahku dengan membawakan sebuah makanan dan segelas air putih. Aku kembali duduk ke kursi biru. Ditaruhnya makanan itu di atas meja di depan kursi yang kududuki. “Sebenarnya ada apa?”, tanyaku penasaran. “Aku beri kau lima menit untuk makan, lalu kau temui seseorang di pintu kananmu itu. Dia sudah menunggu sejak tadi,” katanya sambil menghilang dari hadapanku. Aku membuka makanan yang tertutup itu, ternyata berisi Nasi Pecel. Kenapa ada nasi pecel? Kenapa orang ini tau dengan makanan favoritku? Aku semakin bertanya-tanya, sembari aku menghabiskan nasi pecel tersebut.

Setelah aku selesai makan, aku mengikuti instruksi dari orang tadi. Aku beranjak dari tempat dudukku, menuju ke pintu yang ada di kananku. Aku sangat takut dalam hatiku. Ketika kubuka pintu itu, dari dalam ada suara seorang laki-laki dewasa, terdengar suaranya agak berat. “Ya, ya, ya, silakan masuk. Duduklah, Zal”. Dia tahu namaku? Siapa sebenarnya dia? Aku hanya bertanya-tanya di dalam hati. Aku sudah takut sejak awal karena banyak kejadian-kejadian yang tak kusangka hari ini. Laki-laki tersebut duduk menatap keluar, ke arah kaca. Kemudian ia memutar kursinya, hingga aku melihat wajah laki-laki tersebut. aku sepertinya tidak asing dengan wajah itu. Tapi siapa dia?

Laki-laki itu membawakanku sebuah foto dan berkata kepadaku, “Siapa yang kaukenal? Aku? Atau orang yang ada di foto itu?”. Aku mengamati wajah laki-laki tersebut, mengingat-ingat apakah pernah aku menemui wajah ini? Dan orang yang ada di foto? Aku kenal. Sangat kenal! Dia adalah… Tunanganku. Karena refleks, aku tiba-tiba menatapnya dengan tajam, ”Ada apa dengan dia?!”. “Tenang dulu, Zal. Santai”, katanya sambil mendorongku untuk duduk lagi. “Apa kau tahu barang yang ada di sampingnya itu?”, katanya sambil menunjuk yang ada di foto tersebut. “Aku tahu. Itu adalah hadiah yang kuberikan kepadanya. Memangnya kenapa?” kataku penasaran.

“Itu adalah bom.”

“Bom? Hah?! Tidak mungkin! Aku tidak memberikan hadiah bom. Itu adalah sepasang sepatu Air Jordan 1. Dan hanya aku yang tahu.”

“Benar sekali, Zal. Tapi kau tahu kenapa aku bisa dapat foto ini? Aku ada di rumahmu ketika kau memberikan hadiah itu”, katanya sambil duduk di atas meja.

“Tapi, kenapa kau bisa ada di sana? Kenapa aku tidak tahu? Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana dengan Nana?”. Aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi dan aku juga sangat khawatir dengan Nana. Nana adalah nama dari tunanganku itu.

Let me explain, Zal.”

Aku mendengarkannya serius.

“Kami adalah suatu lembaga mata-mata yang bekerja secara independen. Kami sudah sejak lama mengincar pelaku pemboman ini. Namanya Jerry. Kami ingin membantumu, Zal.” Sambil menunjukkan foto yang ia ambil dari saku bajunya.

“Aku tidak kenal dengannya.” Kataku pelan

“Kau tidak, tapi Nana tau”, katanya sambil memasukkan foto tersebut ke sakubajunya.

“Kenapa Nana bisa kenal dengan dia? Siapa sebenarnya dia?” aku mulai resah.

“Jerry sebenarnya bukan termasuk salah satu dari kelompok pemboman. Dia hanya frustasi. Frustasi karena ia tidak bisa mendapatkan Nana. Dan, ternyata kau yang mendapatkannya.”

Aku berdiri dan menjadi marah, “Memangya kenapa kalau aku mendapatkan Nana?! Apa aku salah?”

“Tidak, kau tidak salah, Zal. Tapi, pernahkah Nana bercerita kepadamu kalau sebenarnya Jerry adalah mantan tunangannya?”.

“Nana tidak pernah cerita kepadaku.”

Setelah banyak penjelasan dari orang tersebut, aku menjadi paham apa yang telah terjadi. Aku harus memberi tahu Nana, bahwa hadiah yang dibawanya itu bukan hadiah dariku. Tetapi sudah ditukar oleh Jerry. Dan kotak hadiah tersebut berisi bom. Dia bilang bahwa hanya aku yang bisa memberi tahu Nana yang sebenarnya. Aku tahu itu, karena Nana tidak mudah percaya dengan orang lain.

Kemarin, waktu aku memberikan hadiah itu, kubilang jangan dibuka sampai besok setelah pulang kerja dan jangan sampai ada aku. Tetapi, karena ini sangat berbahaya, aku harus memberi tahu Nana. Sekarang juga!

Aku menelpon Nana, tetapi telponku tidak diangkat olehnya. Sejak semalam aku juga tidak membalas pesan darinya, karena aku terlalu capek kemarin, jadi aku ketiduran.

Aku ditemani orang tadi, yang masih tidak kuketahui namanya. Dan sekelompok penakluk bom ada di belakangku. Aku mencari Nana. Ketika di dalam mobil, aku bertanya kepada orang tersebut. “Apa kau tahu siapa yang mengawasiku tadi pagi?”. Dia menjawab sambil menoleh kepadaku “Ya aku tahu. Mereka adalah anak buah dari komplotan pembom. Mereka sudah bekerja sama dengan Jerry. Mereka berniat mengmbunuhmu, Nana juga.”

“Memangnya ada yang salah dengan Jerry?”

“Dia depresi. Dia sudah kecanduan dengan morfin. Sangat berbahaya, karena ia masih ingin balas dendam kepada Nana.” Ia menceritakan latar belakang Nana dan Jerry, yang sebelumnya tak kuketahui.

Ketika sampai di kantor Nana, ternyata dia tidak ada. Aku semakin khawatir dengan keadaan Nana. Aku bertanya kepada temannya, katanya dia tidak masuk hari ini.

Aku dan orang tadi memutuskan untuk ke rumah Nana. Ketika sesampainya di sana, Nana juga tidak ada di rumah. Ke mana Nana? Aku khawatir sekali. Tiba-tiba, telpon genggamku berbunyi, ternyata ada telpon dari Nana. Tenyata Nana juga sudah tau tentang semua ini. Dia bersembunyi di rumah temannya. Dan hadiahnya ada di rumah, katanya. Aku dan orang tadi memutuskan pergi ke rumah teman Nana seperti yang dia bilang tadi.

Ketika sampai di rumah teman Nana, aku berlari mencarinya dengan sangat khawatir, hingga aku hampir meneteskan air mata. Aku bertemu Nana di kamar atas, aku lalu memelukknya dengan erat. Lalu, kami mencari keberadaan Jerry dan kelompoknya. Ternyata mereka ada di rumah Nana akan meledakkan bom tersebut. Akhirnya, karena kesiapan para penjinak bom, bom berhasil ditaklukan. Semua orang selamat. Dan Jerry? Di tangkap oleh orang yang tadi menemaniku, yang sampai sekarang aku tidak tahu namanya.

Pernah dimuat di Majalah Papirus Edisi Desember 2017

2 tanggapan untuk “Kesempatan

  • 16 Desember 2018 pada 08:20
    Permalink

    Keren dan wildan

    Balas
    • 16 Desember 2018 pada 17:23
      Permalink

      Trims, gung! Ayo semangat berkarya gung :))

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *