Kemiskinan dan Kepekaan Sosial Kita

Ilustrasi miskin
Ilustrasi miskin

BENGKEL CORETAN – Kemiskinan telah jadi penyakit kronis di tengah-tengah masyarakat. Kemelaratan ekonomi juga telah berhasil, dalam arti buruk, membuka luas perilaku kejahatan serta degradasi moral manusia. Pun telah meruntuhkan daya politik, budaya, sosial serta sisi psikologis manusia. Oscar Lewis (1988) menyatakan bahwa kemiskinan akan menggerogoti aturan dan nilai-nilai budaya dan berimbas pada praktek nepotisme, suap menyuap, menimbulkan budaya instan, serta mental menerabas aturan main.

Perut bahkan mampu mengalahkan sisi spiritual dan moralitas manusia, karena kebutuhan materi (kebutuhan fisiologis) lebih merupakan satu perkara yang terkait dengan eksistensi hidup. Abraham Maslow menyatakan bahwa kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling utama dan mendasar pada diri manusia.

Pernyataan Maslow serasa benar. Sebab, tanpa kebutuhan dasar itu niscaya manusia tak akan mampu bertahan hidup. Tampaknya, hal ini senada dengan sebuah adagium sederhana yang menyatakan bahwa “hidup bukan untuk makan, tapi makan untuk hidup”. Tapi kini, petikan adagium tersebut berubah karena faktanya saat ini orang lebih agresif mengejar kebutuhan materi dan hidup berubah menjadi untuk makan.

Celakanya, agresifitas manusia dalam mengejar kebutuhan materi telah mengikis pondasi moralitas, spiritualitas serta kepekaan sosial terhadap orang lain di sekitar. Orang beramai-ramai mengumpulkan sekian dalih untuk menghindari orang lain yang derajat ekonomi jauh di bawah dirinya.

Kepekaan sosial yang merupakan aspek kemanusiaan pada tiap-tiap individu, karena manusia adalah makhluk sosial, tertutupi oleh keserakahan serta ambisi nafsu syaitaniyah. Semakin tebal tumpukan nafsu syaitaniyah tersebut maka akan semakin tertutup pula aspek sosial serta moralitas pada diri individu.

Asumsi keliru

Kondisi seperti itu akan melahirkan sikap hidup ekslusif serta individualis. Memikirkan diri sendiri dan tertutup dari orang lain. Acuh tak acuh dengan kondisi orang lain, dan andaipun kepekaannya muncul maka hanya bersifat sementara serta hanya sekadar wacana minus aplikasi.

Padahal, realitas kemiskinan di lingkungan sosial kita merupakan suatu pemandangan yang mudah dijumpai di setiap sudut. Tahun lalu, 2009, tercatat sedikitnya 35 juta jiwa rakyat negeri ini yang hidup di garis kemiskinan, dan sekitar 9 juta orang menganggur. Dan bahkan hingga saat ini fakta kemisknan di negeri ini tak kunjung menunjukan penurunan secara signifikan. Hal ini di samping akibat eksploitasi SDA kita yang tanpa mengenal batas.

Tapi juga faktor penyebabnya ialah tingginya angka kebutuhan manusia sehingga menimbulkan persaingan yang sangat ketat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sikut-menyikut, saling menjatuhkan, serta suap-meyuap merupakan beberapa deretan kecil praktek kejahatan produk asli dari sikap hidup individualis dan mementingkan diri sendiri.

Tak sedikit orang mengatakan bahwa kemiskinan adalah disebabkan karena kemalasan individu yang bersangkutan. Ada pula sebagian lainnya justru lebih agak sedikit kolot dengan mengatakan bahwa kemiskinan merupakan takdir hidup atau takdir yang digariskan oleh Tuhan. Padahal, Tuhan Sendiri tak pernah menganjurkan agar manusia hidup miskin.

Menurut hemat penulis, asumsi seperti ini jelas keliru dan perlu di luruskan, karena pada dasarnya setiap individu memiliki motivasi-motivasi tersendiri dalam menjalani perjalanan hidup. Bahkan, justru terkadang motivasi itu muncul tatkala seseorang berada dalam situasi susah atau sulit karena ada kebutuhan-kebutuhan alamiah yang mendorong agar diri seseorang melakukan sesuatu hal yang dapat mengeluarkan diri dari situasi kesulitan itu.

Ambil contoh misalnya, ketika perut terasa lapar dan jika tidak makan maka ia akan sakit atau bahkan meninggal, lantas ia pasti berpikir untuk kemudian melakukan suatu pekerjaan agar bisa memperoleh makanan. Sebagai catatan, di sana terdapat suatu norma sosial agar pekerjaan yang akan dilakukan untuk memperoleh makanan tak merugikan orang lain. Mencuri semisal, tentu itu merugikan orang lain.

Nah, itulah kelebihan manusia. Di mana ada porsi untuk menggunakan otaknya berpikir yang sekaligus membedakan manusia dengan binatang. Proses berpikir itulah yang nantinya akan melahirkan cara atau strategi untuk memperoleh sesuatu, dan hebatnya, setelah berhasil malah justru apa yang dikeluarkan melalui pikiran itu dijadikan rujukan orang lain setelahnya.

Tak ada “Tangan Tuhan”

Jadi, malas bukanlah faktor penyebab kemiskinan. Malas lebih tepatnya ialah hanya sebuah alibi belaka. Begitu pula halnya dengan anggapan bahwa kemiskinan adalah sebuah takdir atau suatu ketentuan Tuhan. Kemiskinan lebih merupakan produk dari kekeliruan serta porak-porandanya sebuah sistem; politik, hukum, ekonomi, sosial, dan budaya.

Sistem itu dibuat oleh manusia sekaligus menjadi pengelolanya yang acap kali justru melanggar aturan main yang telah ditetapkan di dalamnya. Pembuat, pengelola sekaligus pelanggar sistem tersebut. Tak ada campur “Tangan” Tuhan dalam proses pembuatan dan mengelola sistem yang dibuat manusia. Sistem itulah yang kemudian melahirkan regulasi atau kebijakan untuk mengelola sebuah tatanan masyarakat yang kemudian dirangkum menjadi sebuah negara, karena masyarakat merupakan salah satu syarat mutlak sebuah negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *