Bencana Alam Mematikan dalam Lintasan Sejarah

gunung merapi
gunung merapi

BENGKEL CORETAN – Bencana alam letusan gunung merapi yang menimpa Yogyakarta, Magelang, Klaten dan Boyolali bulan lalu telah mengingatkan kita betapa seringnya bencana alam menimpa bumi tempat manusia hidup. Setidaknya, bencana ini mengindikasikan betapa kondisi fisik atau tekstur bumi memang telah menua dan mulai rapuh. Dalam perspektif manusia, jika usia telah menua maka fisiknya sudah rapuh dan tidak lagi bertenaga sebagaimana masa mudanya.

Mungkin kondisi demikian itu dapat kita jadikan alasan logis untuk mengatakan bahwa bumi ini memang sudah saatnya hancur. Jika bumi hancur maka tiada lain itulah hari kiamat yang telah dijanjikan Tuhan sebagai akhir dari kehidupan makhluk, manusia, di bumi dan menuju ke alam kehidupan baru yang kita juga belum tahu.

Di sisi lain, ada faktor pendukung yang membuat bumi kita mendekati kehancuran. Sejak dulu kala bumi telah diprediksikan akan mengalami kerusakan yang sekaligus akan menghantarkan pada kehancuran akibat ulah tangan manusia itu sendiri. Prediksi ini bukan sembarang hanya sekadar prediktif kosong, tapi kini benar-benar telah terbukti nyata betapa manusia yang senyatanya diberikan amanat untuk menjaga serta melestarikan bumi justru merusaknya dengan berbagai cara, seperti menebang hutan secara berlebihan, mengerok isi perut bumi tanpa batas, membuang sampah di sebarang tempat, serta aktivitas merusak lainnya hanya demi perut.

Terlepas dari itu, penulis mencoba menelisik serta memaparkan beberapa kejadian bencana alam dalam sejarah perjalanan manusia, sekadar untuk mengingatkan kita agar dengan itu kita dapat mengambil suatu kesimpulan secara kolektif demi eksistensi kehidupan kita di masa yang akan datang.

Dalam catatan penulis, terjadi sebanyak sepuluh bencana alam terdahsyat di dunia yang menelan puluhan bahkan ratusan ribu nyawa manusia. Pertama, sekitar tahun 1500-an sebelum Masehi telah terjadi Tsunami yang cukup dahsyat di Pulau Stroggli Mediterania menghempaskan pulau ini sehingga memusnahkan kebudayaan Minoa, dan seorang filosof bernama Plato menyebut situsnya sebagai kelenyapan atlantis.

Kedua, telah terjadi bencana alam berupa gempa bumi di Allepo, Syiria pada tahun 1138 menelan kurang lebih 230 ribu korban nyawa, dan berhasil masuk dalam daftar survey geologi Amerika Serikat sebagai gempa bumi mematikan keempat dalam sejarah kehidupan manusia.

Ketiga, kali ini gempa bumi terjadi di Shannzi, China tahun 1565 menelan korban jiwa sebanyak 830 nyawa. Gempa bumi ini cukup dahsyat dan datang secara tiba-tiba tanpa terprediksi sebelumnya. Keempat, di India, bencana alam ini justru mengalami perdebatan karena para analis ada yang menganggap gempa bumi, tapi analis lain mengatakan angin putting beliung yang merenggut 300 juta jiwa pada tahun 1737 di Calcutta. Berikutnya bencana alam meletusnya gunung Tambora, Indonesia, pada tahun 1815, meletupkan lahar panas dan menghanguskan 80 ribu orang.

Kemudian pada tahun 1976 di Tangsha, China terjadi gempa bumi merampas nyawa manusia kurang lebih 225 ribu jiwa. Pun pada tahun 1985 letusan gunung Nevado Del Ruiz di Kolumbia yang aliran lahar dan lumpur panasnya merenggut 25 ribu nyawa. Peristiwa 26 Desember 2004, yakni Tsunami di Aceh termasuk dalam catatan bencana alam terbesar dalam sejarah perjalanan manusia. Tsunami tersebut merupakan akibat gempa bumi di lautan Hindia yang menjadi pusatnya berkekuatan 9,3 skala magnitudo.

Sekali lagi gempa bumi berkekuatan 7,6 magnitudo mengguncang Pakistan dua tahun lalu yang menewaskan kurang lebih 40 ribu orang. Dan terakhir angin puyuh nargis menyapu Myanmar tahun 2008 lalu menewaskan 140 ribu korban lebih.

Sebenarnya masih banyak lagi deretan bencana alam yang terbilang cukup dahsyat serta mengerikan, namun kualifikasi di sini ialah banyaknya jumlah manusia yang jadi korban akibat bencana. Ambil contoh semisal, bencana alam lumpur Lapindo yang hingga detik ini masih bergemuruh dan membara menenggelamkan sekian kecamatan di Sidoarjo. Dikatakan bencana alam sebab, lumpur tersebut keluar dari perut bumi dan adapun kesalahan Lapindo hanyalah pada persoalan tehnis.

Banyak dari kalangan ahli beranggapan bahwa tsunami dan badai besar adalah bencana alam yang lebih besar potensinya membunuh manusia dalam jumlah besar. Prediksi tersebut bolehlah dipercaya, setidaknya sebagai referensi bagi kita, namun hal yang paling pasti bahwa bencana alam apapun bentuknya tetaplah menjadi ancaman bagi kehidupan manusia di muka bumi dan pasti mengerikan karena kejadian yang sudah-sudah telah memberikan pelajaran paling berharga.

Terlepas dari itu, bencana alam sepertinya tidak akan pernah lepas dari kehidupan manusia di bumi. Sebab, bencana alam seperti ini sudah ada sejak ratusan tahun silam bahkan hingga kini seakan terus terjadi sebagai kelanjutan dari masa lalu.

Dengan begitu, setidaknya mampu memberikan sebuah pemahaman yang realistis kepada kita bahwa bencana alam tak dapat dihindari, siapapun itu, dan tinggal bagaimana kita selalu berupaya agar tetap terus waspada serta melakukan antisipasi-antisipasi, dan hal yang lebih penting lainnya ialah kita mesti akrab dengan bencana alam yang sejak dulu seakan telah jadi bagian dari kehidupan kita. Bencana alam letusan gunung merapi, banjir bandang di Wasior dan gempa bumi di Mentawai adalah tiga deretan kejadian alam yang baru-baru ini mengguncang bumi, terutama di kawasan Indonesia, adalah bukti betapa bencana alam tidak akan pernah enyah dari kehidupan manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *