Gengsi-gengsian: Buat Apa?

Gengsi-gengsian: Buat Apa?”

(Wildan Sahidillah)

“Susah ya cari kerja sekarang ini.” Kata teman saya yang beberapa waktu lalu baru wisuda dan sedang dalam proses mencari pekerjaan. Saya masih bingung kenapa orang-orang masih konservatif dalam hal seperti ini. Apalagi ditambah dengan dukungan, “Kamu mau jadi apa?”, “Kerja tu yang sejurusan!”, “Udah sarjana masih pengangguran?“. C’mon man, di luar sana banyak sekali lapangan pekerjaan. Tinggal kamu mau atau tidak. “Yah, jangan dong. Itu kan bukan jurusanku pas kuliah dulu.” Aduh, kalo kamu banyak ngeluh, kapan bersyukurnya?

Gini, sebenarnya yang jadi tujuan kamu apa? Kamu mau cari apa? Kamu mau jadi Pegawai? Pengusaha? Freelancer? Semuanya baik loh. “Gajinya? Nanti aku ga bisa makan kalau cuman segitu.” Ya ampun! Susah ya kalo ngomong sama orang kaya. Iya, kaya akan alasan. Memang, gaji salah satu faktor yang mempengaruhi, tapi coba bayangkan, memangnya hanya “gaji” dan “jabatan” yang membuat kita hidup bahagia? Hanya itu? Tidak, wahai kawanku. Gaji dan jabatan adalah media kita, apakah kita bisa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya dengan media itu.

Semua pekerjaan bagiku baik, asalkan halal dan barokah. Salah satu yang merupakan faktor dari dorongan sesorang untuk mencari kerja adalah orang tua. Mungkin beberapa di antara kita, masih banyak yang berpikir bahwa, “Bapak sama ibuk aku tuh, nyekolahin aku buat jadi ini…” Jadi? Kalo udah jadi apa lagi? Gitu terus sampai 100 tahun yang akan datang? Tolong, jangan konservatif dong.

“Itu ada pekerjaan, kenapa ga di terima?”,

“Nggak ah, aku ga suka di bidang itu.”

Kenapa? Gengsi ya? Buat apa? Emang gengsi bisa ngasih makan kamu? Bukannya kamu yang kemakan gengsi? Gini, poin terpenting adalah bagaimana kamu bisa bekerja kalau kamu tidak menyukainya, gitu? Salah. Bukan itu, yang paling penting adalah bagaimana kamu belajar dari pengalaman kamu bekerja. Kamu pernah bekerja sebelumnya? Tolong dijawab, ya. Kalau pernah, kamu akan tahu pekerjaan itu cocok atau tidak denganmu. Kamu akan belajar bahwa bekerja tidak semudah yang kamu bayangkan, ya?

Mungkin kamu bercita-cita menjadi ini, itu, dan lain-lain, tapi kalau kamu sampai beberapa tahun kok tidak bisa menjadi apa yang kamu cita-citakan, terus gimana dong? Jangan sedih, jalan masih panjang. Kamu tidak mencoba hal yang lain? Kalau kamu orang yang memiliki wawasan yang luas, pekerjaan tidaklah yang harus kita cita-citakan sejak dulu, tapi realistis saja, apa yang bisa kita kerjakan?

Apa harus iya kita menuruti omongan orang lain dengan mengorbankan kita? Jangan. Kita tidak bisa terus-terusan kemakan gengsi. Kita perlu realistis. Yap, realistis. Untuk masa depan, kita harus merncanakan sebaik mungkin. Percaya kalau rezeki itu sudah ditakdirkan oleh Allah S.w.t. Kenapa susah-susah kerja harus ini, itu? Memangnya Nabi Muhammad mengajarkan kita untuk menuruti gengsi ya? Tidak kan. Coba deh, baca-baca buku, siapa tahu kamu dapat inspirasi :))

Perlu dipahami ya, tidak selalu pekerjaan bisa sejurusan dengan apa yang kita harapkan. Kalau Allah S.w.t menghendaki yang lain, kamu bisa apa? Bukankah Allah bersama prasangka hambanya? Jadi, jika kamu optimis pasti bisa. Yang jelas, tolong jangan konservatif menganggap “Apa yang bisa aku lakukan hanya itu.” Tolong hilangkan itu, dan ganti dengan “Aku akan mencoba untuk mengetahui banyak hal.”

“Gengsi ngasih kamu makan? Bukannya kamu yang kemakan gengsi?”

– Wildan Sahidillah

5 tanggapan untuk “Gengsi-gengsian: Buat Apa?

  • 24 Desember 2018 pada 18:08
    Permalink

    Lebih baik kita kerjakan apa yang bisa kerjakan selama itu halal gak melanggar aturan plus belajar cari ilmu sebanyak banyaknya…biar skill tambah luas kita gak ngerti ALlah ngasih rejeki ke kita lewat jalur mana…

    Balas
    • 24 Desember 2018 pada 18:14
      Permalink

      tepat sekali, selagi itu halal pasti diberkahi, rezeki memang sudah diatur ALLAH tapi kita tetap diwajibkan untuk berusaha sekuat tenaga untuk meraihnya

      Balas
  • 22 Desember 2018 pada 16:53
    Permalink

    benar banget, buat apa gengsi untuk sebuah pekerjaan, selagi itu benar kenapa tidak.

    Balas
    • 22 Desember 2018 pada 19:44
      Permalink

      Iya bro, bener banget. Yang kita cari kan berkah dari pekerjaannya

      Balas
      • 22 Desember 2018 pada 22:16
        Permalink

        benar sekali, lanjutkan opini bagus mu bro

        Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *