Kopi

Suatu hari di kampung halaman ku, seperti biasa aku tidak banyak melakukan aktivitas.

lalu aku duduk di teras rumah sembari memainkan gitar kesayangan untuk menghibur diri dengan nyanyian sumbang dari suara ku,

tapi entah kenapa siang ini aku merasa lesu seperti ada yang kurang dalam keseharian ku.

Di tengah lagu aku tiba-tiba berhenti, “nampaknya karena belum ngopi ni” pikir ku.

Segera lah aku beranjak dan bersiap untuk berangkat tidak lupa mengirim pesan untuk mengajak teman ku, “bro ngopi yuk di tempat biasa aku udah mau OTW ni”.

“Siap” balasnya.

sampai lah aku di tempat tongkrongan kami yang jaraknya kira-kira 10 menit jika menggunakan sepeda motor.

Begitu masuk aku lalu menghampiri pelayan, “kopi satu jangan terlalu manis” pesan ku.

Pelayan itu tersenyum dan mengangguk mendengar pesananku.

Beberapa menit kemudian pesanan ku datang dengan dibawakan oleh seorang wanita cantik dan mempunyai tubuh yang indah,

“orang-orang umumnya bilang Seksi”.

Diletakkannya kopi ku dan dia duduk di depan ku, “sendirian aja?” dia bertanya. “enggak ini lagi nunggu teman juga” sahut ku.

dia bertanya lagi, “gimana kehidupan di sana” sambil tersenyum dengan wajah cantiknya.

“ya cukup menyenangkan banyak pengalaman baru” sahut ku lagi.

Dan mulai lah kami berbincang-bincang.

“Kami berdua cukup akrab karena memang dia adalah teman kuliah satu angkatan hanya berbeda jurusan dengan ku, dan sekarang sudah membangun usaha kafe sendiri”.

Selang beberapa menit kemudian terdengar suara motor yang tidak asing di telinga ku, “oh ya ini teman ku datang”.

Dia masuk kebetulan juga melihat wanita itu tanpa berlama-lama lalu memesan minuman, “es teh dong” pesannya dengan singkat.

Tidak butuh waktu lama untuk pesanannya datang.

Aku melihat temanku ini seprtinya juga sedang tidak terlalu bersemangat, “mungkin karena cuaca panas pikir ku”.

Ku keluarkan sebungkus rokok andalan dari dalam saku sambil membuka percakapan dengannya.

“gimana ni? kok lesu amat?” tanya ku,

“aaahhhhh entah lah pusing palak ku mikirin hidup sekarang ni” sahutnya singkat.

“cerita lah, apa lagi yang buat pusing ? bukannya kau sudah ada kerjaan, sudah berpenghasilan ? dan kehidupan asmara mu juga bagus-bagus saja kan ? terus apa yang salah ?”

“ahhhh aku udah enggak bekerja lagi belum lama ini aku diberhentikan” sahutnya lesu.

“kok bisa ?” tanya ku lagi dengan penasaran.

“gini ceritanya ” tapi langsung ku potong omongannya

“entar rokok’an dulu” sambil aku menyalakan rokok.

“oke lanjut” sambungku sesuah menghidupkan rokok.

berawal dari situ dia mulai bercerita panjang lebar tentang masalah-masalahnya sekarang ini,

dan aku hanya bisa mendengarkan sambil menghisap sebatang rokok dan meneguk kopi ku.

Ceritanya bisa dikatakan cukup panjang karena hampir memakan waktu setengah jam untuk dia mengutarakan semua kekesalannya.

Cerita itu berakhir dengan ungkapan yang keluar dari mulutnya

“yahhh gini ya perjuangan hidup, belum saja merasakan manisnya hasil jeri payah sudah jatuh lagi dan harus merasakan pahitnya lagi,

terkadang hal seperti ini yang membuat orang-orang jadi frustasi dan derpresi karena impian hidup enak bisa dikatakan sangat jauh untuk bisa digapai,

jadi teringat dulu bro waktu aku masih jadi orang yang cukup berada karena usaha orang tua ku yang terbilang sukses”.

Aku memang tidak begitu mengerti dengan semua yang dia ceritakan.

Tapi aku bisa menyimpulkan bahwa dia sedang mengeluh dengan hidupnya sekarang yang mungkin menurutnya sangat jauh dari impiannya selama ini.

Aku terdiam sejenak sambil mematikan rokok, dan tiba-tiba rasanya ada jin seorang filsafat yang merasuk ke dalam tubuh ku.

Dengan percaya diri aku mengatakan

“bro, kau tau jika boleh disamakan kehidupan seseorang itu seperti minuman yang kita berdua minum sekarang. Ada es teh dan kopi”.

“gimana maksudmu ?” tanya teman ku heran.

“gini, aku umpamakan kau menjalani hidup seperi meminum segelas es teh manis ini.

kita anggap saja usaha mu sama dengan kau mengaduk gula pada minumanmu supaya rasa manisnya merata.

Lalu kemudian kau teguk dan benar ini terasa manis dan nikmat, itu adalah awal kehidupan mu setelah mendapatkan hasil.

Karena manis dan nikmat kau meminum teh itu sedikit demi sedikit supaya merasakan puas, itu sama dengan kau sudah mulai nyaman dengan semua penghasilan dari pekerjaan mu.

Tapi tanpa kau sadari es yang ada di dalam teh itu lama-lama mulai mencair dan membuat teh mu menjadi tawar dan hilang kenikmatannya, itu awal mula masalah mu.

Setelah nikmat teh itu hilang dan hanya terasa tawar kau mulai mengeluh kenapa dengan minuman ku ini, lalu kau tidak terima dan menyingkirkan minuman itu karena memang sudah tidak enak”.

“maksud ungkapan ku adalah kau tidak bisa menerima kenyataan jika usaha yang sudah kau lakukan ternyata harus merasakan pahit di tengah jalan dan tidak selamannya terasa manis hingga akhir”

“bisa dikatakan hidup kita mungkin tidak bisa seperti madu yang dari awal hingga tetes terakhir tetap terasa manis dan bahkan sangat manis”.

“lalu enaknya gimana ?” sanggah nya.

“kau harus mulai mencicipi kopi. kopi pada dasarnya adalah pahit lalu dengan diberikan sedikit gula untuk penyedapnya supaya terasa nikmat dan bahkan tanpa gula pun orang masih bisa merasakan nikmatnya kopi.

Maksudnya dari awal tegukkan kau sudah sadar bahwa di balik manis ini ada rasa pahit dibaliknya, artinya itu untuk mengingatkan bahwa manisnya hasil usaha mu akan ada halangan yang mengintai dibaliknya.

Dan juga kopi ini mengingatkan bahwa tidak selamanya hidup enak saja yang bisa dinikmati,

bahkan pada saat hidup terpuruk alias menganggur pun kau harus bisa merasakan nikmatnya hidup yaitu dengan cara bersyukur pada tuhan. jadi teruslah berusaha sekuat tenaga”.

“hiduplah seperti kau meneguk secangkir kopi, biarpun pahit tapi masih bisa dinikmati” sambil menutup ceramah ku padanya.

Dia hanya terdiam dan menjawab “ya yang kau katakan enggak salah juga, mungkin rezeki ku bukan cuma di situ tetapi sudah tuhan persiapkan ditempat lain”.

“nah, itu dia” sahut ku bangga.

Tak lama berselang dia melambaikan tangan kepada si wanita pemilik kafe

“kopi satu enggak terlalu manis, yang manis sudah cukup kamu aja”.

wanita itu hanya tersenyum mendengar gombalan teman ku.

Tapi yang masih menjadi pertanyaan dalam pikiran ku

“kenapa tiba-tiba dia memesan kopi ?”

mungkin saja dia ingin memulai kehidupan yang baru dengan cara sederhana yaitu meminum segelas kopi yang tak terlalu manis.

[selesai]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *